Selamat Datang Di Blog Saya
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Februari 2020

Monokrom 4# emosi


Syidiq menulis namanya di papan tulis, kemudian dia memperkenalkan diri. " Baiklah semuanya salam kenal, perkenalkan namaku Syidiq Iskandar, kalian bisa memanggilku Syidiq, dan mohon kerjasama kedepannya, mungkin itu saja dulu, saya tutup wassalamu'alaikum wr WB." Kata Syidiq mengakhiri perkenalannya

" ibu rasa cukup pengenalannya, semoga kalian bisa akrab dan berteman dengan Syidiq, baiklah syidiq silahkan kamu duduk dibangku kosong di sana (sambil menunjuk bangku kosong paling belakang sebelah Zain)" kata  buk yeni

" tunggu dulu buk" Zain menyanggah sambil mengangkat tangan.

"bukankah itu bangkunya Nissa, kenapa dia harus disitu" kata Zain

"Ibu tau Zain, saat ini kan Nissa sedang sakit, belum bisa sekolah jadi untuk sementara biarkan sidik duduk dibangkunya Nissa, nanti setelah istirahat biar Syidiq mengambil bangku digudang" tegas buk Yeni

"Tapi buk".. belum sempat Zain menyanggah 

"Tidak ada tapi-tapian, Syidiq cepat duduk disana, dan kita akan lanjutkan pelajarannya" tegas buk Yeni

"Buk " kata Melisa sambil mengangkat tangan, 

"Ya ada Mel?" Tanya buk yeni

" Nanti biar saya temani Syidiq ke gudang ngambil bangku , sambil ngajak dia berkeliling ke sekolah ini " kata Melisa


"Ya boleh juga , tapi sekarang fokuslah ke pelajaran, dan kau Syidiq (menunjuk sidik yang tengah berjalan menuju bangku kosong ) tolong di ingatkan bila Melisa lupa" kata buk Yeni kemudian buk Yeni berdiri kepapan tulis, menulis ringkasan materi.

"apa- apaan kau ini ?" Zain berbisik kepada Melisa


"Memberi bantuan" jawab Melisa santai

Sebelum duduk dibangku tersebut Syidiq menemui Melisa ke bangkunya karna searah 

"Terimakasih " kata Syidiq

"Apa kau ingat aku, bagaimana, apa kau sudah mendapat banyak teman?" tanya melisa


Syidiq tersenyum seakan tau sesuatu " tentu tapi masih kurang" jawab nya

Setelah itu Syidiq melangkah kearah bangku zain, 
Meletakkan surat (yang dijatuhkan di jembatan tadi) diatas meja Zain, bukankah ini untukmu, bacalah!" Kata Syidiq, lalu duduk dibangku kosong.


"Kau" kata Zain melihat Syidiq

Kemudian Zain berdiri hendak keluar " buk permisi keluar ke UKS" kata Zain

"Eh, tidak bisa, bukankah pelajaran baru saja dimulai" kata buk Yeni

" Tapi buk tubuhku rasanya tidak enak, butuh istirahat sebentar" jawab Zain santai

"Jangan cari alasan, bukankah kau tadi baik2 saja, nanti ibu buat kamu Alfa Lo" kata buk Yeni

" Terserah ibulah, kalau tak percaya, lihatlah aku nanti di UKS " jawab Zain kemudian dia keluar ruangan kelas


Buk Yeni terlihat kesal namun masih bisa bersabar kemudian dia melanjutkan menulis materi di papan tulis

"kenapa dia itu?" Fikir Syidiq

Syidiq hanya diam dan memperhatikan buk Yeni yg sedang mengajar , dia juga melihat keadaan sekitar dilihatnya teman sekelasnya banyak yang tidak fokus belajar,ngemil permen karet, makan kuaci, ada yang masih bermain kartu, bergosip dengan teman sebelahan menggunakan buku catatan, bahkan Melisa yang dikiranya menulis dan memperhatikan ternyata mengisi buku TTS , ada juga siswa cewek mendengar musik pakai earphone, karena siswa cewek disekolah itu memakai jilbab bagi yg muslim, "sepertinya aku masuk kekelas yang salah" fikirnya

Saat memasuki ruangan UKS 

"Maaf buk  seperti aku butuh istirahat" kata Zain kepada perawat sekolah

"Oh kamu lagi Zain, kenapa tubuhmu, apa semalam kau begadang lagi? (Buk Teti) Tanya perawat sekolah 

"Iya buk, jadi biarkan aku istirahat sebentar disini "

"Tentu sebelum itu biar ibuk periksa dulu" jawab buk Teti

"Tidak perlu buk aku cuma butuh istirahat dan tidur" jawab Zain lalu dia menuju kasur UKS dan menutup layar

"Dasar kau Zain ini bukan hotel, berhentilah begadang dan aturlah pola hidup sehat, dan jangan kau sia-siakan waktu sekolah mu" kata buk Teti memberi nasehat kepada Zain 


Sementara itu Zain yang berbaring di ruangan yg ditutupi tirai itu hanya mendengarkan perkataan buk teti, ia termenung sejenak kemudian dia mengambil surat dikantong baju dan membacanya ':

~ Untuk kak Zain yang kucintai

Sebelumnya aku ucapkan terimakasih padamu yang telah beberapa kali menyelamatkan ku dan menghapus air mataku

Perbuatan baikmu itu perlahan membuatku simpati dan mulai menyukai mu, akupun semakin penasaran terhadap mu

Hingga pada suatu hari kubulatkan tekadku untuk menembak mu, namun kakak menolak ku

Akupun bersedih namun tidak putus asa untuk mendapatkan mu, karena kupikir suatu waktu nanti kau pasti akan luluh dan menerima cinta ku,

Karena itulah aku selalu menembak,  mengatakan cinta padamu, dan memaksamu menerima cintaku berkali-kali saat ada kesempatan

Lalu kakak mulai menghindari ku , maafkan aku mgkin karena sifat ku yg membuatmu begini

Jadi maaf kan aku kak, aku tak akan memaksamu lagi, aku hanya ingin berteman seperti saat kita pertama kali kita bertemu dulu

Aku mohon bertemanlah denganku, tak apa jika aku tidak menjadi pacarmu 

Aku hanya ingin dekat dengan mu

Dari ku Lyla~

"ya ampun, apa-apaan ini" fikir Zain

Bersambung...

Sabtu, 15 Februari 2020

JINGGA #1 si pemalas

#1          SI PEMALAS









" cerita ini hanya fiktif belaka"  




--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Pagi hari yang cerah matahari bersinar terang menerangi seluruh kota Bangko, semua orang sibuk beraktifitas, bekerja, sekolah dan sebagainya, namun tidak dengan orang yang satu ini :


[adam]

[jam menunjukan pukul 07.00 WIB]

namun [adam] masih nyenyak tertidur



[pukul 09.00 WIB]

bangun sebentar lalu merubah posisi tidur



[pukul 10.00 WIB]

meraba-raba sekitar lalu menggenggam hp dilihatnya, ia pun terbangun dan berdiri sambil menguap lalu ia kedapur dan membuka lemari penyimpanan makanan (bukan kulkas) kemudian ia mengambil sisa roti kemarin,,,

           duduk dikursi sembari menikmati roti, setelah habis ia kembali kedapur, namun tak ada gelas ataupun cangkir yang bersih, akhirnya ia meminum langsung lewat keran galon.....

setelah itu ia kembali kekamarnya kekasur telentang menatap langit-langit rumah dengan tatapan hampa iapun tertidur




[pukul 11.38 WIB]


ia terbangun lalu ke kamar mandi untuk buang air, setelah itu ia melihat jam dan kembali kekamar mengambil handuk lalu kekamar mandi,,,                                                                            


dikamar mandi hanya menggosok gigi dan cuci muka saja, iapun kembali kekamar....


didalam kamar yang seperti kapal pecah tersebut ia  membuka laptop browsing internet,,, stalker facebook,, dikolom pencarian google ia slalu mengetik ,,, lowongan pekerjaan, cara mudah mencari uang, sukses diusia muda, dsb


dikarenakan tak menemukan yang sesuai dan merasa bosan ,,, iapun menutup laptop tersebut....


kemudian ia pindah keruangan tamu membawa bantal lalu  duduk santai menyender kedinding sambil merenung  lalu mengalihkan pandangannya melihat jam dinding diatas pintu dapur yang telah menunjukan [pukul 12.20]


beberapa saat kemudian azan berkumandang iapun sholat sendirian dirumah tersebut...





[pukul 14.00 WIB]

[adam] sedang tertidur pulas,,, ponselnya berdering berkali-kali, ia terbamgun dan melihat ponsel tersebut, dilayar ponsel ,,, 7 panggilan tak terjawab ,,, ayah...                                              kemudian ia menelpon balik ayahnya :

[adam] :   mmmm ada apa ?

[ayah]  :   gimana kabarmu ?

[adam] :   baik

 [ayah]  :   dimana kau sekarang nak?


[adam] :   dikontrakan kenapa?


[ayah]  :   kau sudah dapat pekerjaan ?

[adam] :   belum

[ayah]  : kenapa kau tak pulang ? jika tidak dapat pekerjaan,,,, sudah setahun ini kau lulus sarjana kerjaanmu juga gak ada............!!@#$%!!@$%%bla...bla

 [adam] :  mematikan ponsel karena kesal,,, kemudian ia kedapur bermaksud mencari makanan,,,, namun tak satupun ada,,  dengan menghela nafas iapun kembali tidur....





beberapa saat kemudian 

suara ponsel berdering dilihatnya dan diangkatnya telpon yang masuk tersebut : 




[adam] :  halo, ada apa klas?



[adam] :  ya




[adam] :  aku dirumah sekarang, dak kemana- mana




[adam] :  ok, wassalam.."





setelah itu 

yang dilakukanya hanyalah berbaring telentang menatap langit-langit rumah





[pukul 16.00]



seorang pengendara motor mx datang... iapun menghampiri sebuah kontrakan temannya


sesampainya didepan rumah tersebut diparkirkanlah kendaraannya lalu membuka helem


[muhklas]


berjalan kearah pintu rumah sembari bergumam " ruamahnya kok ditutup kayak gak ada orang saja,,, apa dia masih didalam gak ya..?"





[muhklas] : daam,, adaam,,, assalamualaikum...

[muhklas] : masih hidup gak kamu jok?

[adam]       : oy ... waalaikumusalam

[adam]       : mebuka pintu,, kamu toh las, aku  kiro daj jadi                              datang...


[muhklas] : mana mungkin, aku kan tepat janji


[adam]      :  masuklah.......




[muhklas] : diluar baelah cuma sebentar kok


[adam]      :  keluar,, lalu duduk dikursi luar rumah




[muhklas] : duduk diatas jok motor





[muhklas] :  sudah dapat kerjaan  ?


[adam]     : nihil ...., tidak macam kamu yang sudah dapat kerja




[muhklas] :  kamu sih yang kurang usaha..!


[adam   : kurang usaha apanya,, bahkan aku sudah mati-matian cari kerja namun tetap saja nihil 




[muhklas] :  masak..???


[adam]      :  kau tau,, pekerjaan yang sesuai jurusan ku susah dicari bisa jadi sudah tak ada lagi lowongan,,, aku sudah kesana kesini tetap saja gak dapat,,, pekerjaan lain memang ada  cuman tidak seberapa,,, bahkan telah banyak pekerjaan yang sudah kucoba




[muhklas] :  oooh... sudah setahun ya kita lulus,, padahal dulunya kau adalah mahasiswa pintar


[adam]      :  sekarang ini pintar tidak menjamin kesuksesan seseorang, asal ada koneksi dan dana pasti bisa sukses


[muhklas]    :  nampaknya kau sedang kacau... cepatlah ganti pakaianmu dan ikuti aku


[adam]         :  kemana..??




[muhklas]    :  kita merepreshing otakmu biar kau bisa tenamg dan kembali semangat,,, jarang- jarang kan aku main ketempatmu?


[adam]          : kau ini ,,,, baiklah.....   masuk kerumah








beberapa saat kemudian 



[adam]   :  ayo berangkat !!


[muhklas]    :  siip,, eeh  mana helm mu?


[adam]    : hilang ntah kemana




[muhklas]    :  oh ya WAmu kok gak aktif?




[adam]    : HP androidku sudah dijual buat beli makanan 






merekapun pergi dengan kendaraan yang perlahan meninggalkan rumah tersebut 

......

bersambung


.............................................................................................

  

































Selasa, 21 Januari 2020

Monokrom 3# siswa baru


Didalam ruangan kelas, sebelum jam pertama pelajaran dimulai, beberapa siswa sudah berada dikelas, ada juga yang baru masuk ke kelas, "Assalamualaikum, pagi semuanya?" Kata Diana memberi salam , "waalaikumussalam, pagi juga Diana"balas teman diana,kemudian Diana menemui temannya lalu mereka bergosip.

beberapa saat kemudian Zain masuk keruangan kelas , sambil menuju bangkunya Zain melihat suasana kelas, dilihatnya teman sekelasnya ada yang membaca buku, mendengar earphone , makan Snack dikelas, mengobrol, bergosip,bermain kartu dilantai paling belakang  , duduk berkelompok dan berbicara dengan keras, serta tingkah lainnya, lalu dia duduk dibangkunya nomor tiga dari sudut kanan, dibangku paling belakang, Zain meletakan tasnya diatas meja lalu ia merebahkan kepalanya sambil menunggu guru masuk kekelas.

"Hey Zain kenapa kau tampak lesu, apa ada masalah? " Tanya Melisa yang berada di bangku sebelah kirinya dipojokan paling belakang ditepi dinding kelas, " Zain lalu memalingkan wajahnya, dilihat ya Melisa " tidak ada, satunya-satunya masalah disini yaitu kelas kita berisik dan ribut sekali, dan aku tidak menyukai itu"balas Zain , "oh kalau itu aku sudah tau, santai lah sedikit, atau lebih baik kau gabung dengan mereka menikmati kebisingan mereka" kata Melisa membalas Zain, setelah itu Melisa kembali mengobrol dengan teman cewek di depannya.

Bel masuk berbunyi tandanya pelajaran akan segera dimulai, namun tak ada siswa dikelas yang menghiraukannya mereka masih sibuk dengan urusannya masing-masing. 

"Assalamualaikum" buk Yeni memberi salam lalu dia langsung menuju bangku guru didepan kelas,

Melihat buk Yeni seorang wali kelas sekaligus guru biologi sudah masuk kelas semua siswa di kelas bergegas duduk di bangku mereka masing-masing kecuali afi, yadi, Hasbi, dan Leon, mereka sedang asik bermain kartu sampai lupa keadaan bahwa buk Yeni sudah masuk ke kelas

Lalu Zain melempar buku kearah gengnya afi yang tengah bermain kartu, buku tersebut tepat mengenai kepala afi, "brengsek kau Zain kau kira tidak sakit apa!" Kata Alfi marah , namun dia tiba-tiba diam dan Alfi serta gengnya segera duduk dibangkunya setelah menoleh kedepan kelas dan dilihatnya buk Yeni sudah duduk dimejanya, "kenapa kau tak bilang?" Bisik afi sambil mengembalikan buku zain, "aku juga baru tau"balas Zain.

"Semuanya siap, beri salam kepada guru kita" ketua kelas memberi komando, "assalamualaikum warahmatullahi wa barokatu" para siswa kompak , "waalaikumussalam warohmatullahi wa barokatu" balas buk Yen, "berdoa dimulai!"lanjut ketua kelas "bismillahirrahmanirrahim,Rabbisy syrahlii shadrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam millisaanii, yafqahu qaulii, amin'' kompak para siswa.

"Murid murid sebelum kita memulai pelajaran ada beberapa hal yang ingin ibu sampaikan kepada kalian" tegas bukyeni memulai perkataannya, 
"Asal kalian tau, kalian bukan lagi anak SD, kalian sudah kelas 2 SMA jurusan IPA lagi, belajarlah menjadi dewasa, Di ruangan guru kelas ini selalu menjadi pembicaraan, dan ibu merasa risih karenanya, tukang ribut, bolos, berandal, pemalas, mengabaikan guru yang sedang mengajar dan masih banyak lagi lain, hebat kalian belum sampai sebulan belajar di semester ini kalian sudah terkenal,,"  "bagus dong bung kalau kelas kita terkenal" jawab Melisa memotong ucapan buk Yeni.

"Kalau terkenal dalam bidang pendidikan dan prestasi mah bagus, ini malah sebaliknya kelas kita dicap sebagai kelas yang paling susah diatur,,, karena itu ibu mohon kepada kalian untuk jaga sikap, jangan sampai ada masalah lagi, dan jika guru sedang mengajar tolong diperhatikan kalian sudah besar bukan?" Tegas buk Yeni

Seketika kelas tersebut hening untuk sementara,,,

"Baiklah sekarang ibu akan mengabsen kalian, perhatikan baik-baik," kata buk Yeni.

"Ya buk" kompak para siswa menjawab

"Jumlah kalian 15 orang apa ada yang tidak masuk?'' tanya buk Yeni

"Nissa buk, masih sakit" jawab ketua kelas

Kemudian buk Yuni membuka buku absensi kelas dan mulai mengabsen siswa dikelas tersebut

"Ingat ya ibu mengabsen sekalian ingin mengingat wajah kalian, Adi Saputra" hadir buk, Adam Zain", hadir....... Yasmin alika" hadir. .

"Ingat kalian jangan ribut" kata buk Yeni,  "iya buk" jawab para siswa, 

"Sekarang kalian buka buku cetak bab ketiga, kita akan membahas..." Belum selesai buk Yeni bicara tiba tiba terdengar suara dari pintu kelas , 

Tok tok tok (suara ketukan pintu)  "assalamualaikum, permisi" kata Syidiq memberi salam

"Waalaikumussalam silahkan masuk" buk Yeni mempersilahkan masuk


Kemudian Syidiq masuk kekelas dan menghampiri buk Yeni

"Ada perlu apa ya kamu dikalas ini?" Tanya buk Yeni

"Maaf buk saya siswa baru disekolah ini, saya pindahan dari SMA utara, dan saya disuruh oleh bapak kepala sekolah untuk masuk ke kelas ini" jawab Syidiq

"Oh, kalau begitu silahkan kamu memperkenalkan diri dihadapan siswa yang lain" kata buk Yeni

" Baik Bu" jawab Syidiq

"Ini gunakan spidol" kata buk Yeni sambil memberikan spidol kepada Syidiq

"Semuanya perhatian, hari ini kita kedatangan siswa baru dikelas ini, dia pindahan dari SMA utara, kepada kamu silahkan memperkenalkan diri" kata ibu Yeni 

"Terimakasih buk, baiklah semuanya salam kenal, perkenalkan namaku adalah Syidiq Iskandar, dan kalian bisa memanggilku syidik" kata syidik memperkenalkan diri sambil menuliskan namanya pakai spidol dipapan tulis,

"Bukankah dia siswa yang kutemui tadi saat kesekolah" pikir Zain


Bersambung

Jumat, 27 Desember 2019

Menggapai cita dan cinta 7# menggenggam semuanya


Dua tahun kemudian

Kini semuanya telah terbayar seorang gadis introvert telah berubah menjadi seorang penulis sukses dan semua karya selalu masuk top best seller di pasaran dan membuat pundi pundi uang. Tak hanya itu Jiena juga diperistri oleh Jinu yang merupakan pengusaha muda sukses sehingga membuat hidupnya sangat bahagia sekarang. Jiena dan Jinu tengah duduk di sebuah jembatan yang sama, tetapi dengan status keduanya yang telah berbeda sekarang.

“mengapa kita ke sini” Tanya Jinu

“memangnya kenapa, oh aku tahu mentang-mentang kamu sekarang pengusaha sukses dengan banyak uang terus kamu malu nongkrong di pinggir jembatan” ucap Jiena yang ingin meledek suaminya itu.

“ Enggak gitu juga” jawab Jinu singkat.

Karena merasa kurang asik Jiena pun menelpon Mino yang ternyata juga berada di kota dan telah menjadi pengusaha keripik yang sukses dan sering menjadi parther Jinu. Sepuluh menit kemudian Mino pun sampai, namun Ia memarkirkan mobilnya agak jauh, Mino pun turun dari mobil sembari melihat Jiena yang semakin bahagia dengan Jinu. Sesekali ia pun merasa sesak akan kenyataan ini namun mau bagaimana lagi sekarang Jiena sudah menjadi Nyonya Jinu. Minu pun ikut bergabung bersama mereka sambil bercanda dan menikmati indahnya gemerlapan suasana kota. 

Tamat....

Menggapai cita dan cinta

oleh Endah P. L.

Menggapai cita dan cinta 6# sudah didepan mata



Hangat nya cahaya mentari membuat tidur Jiena semakin lelap hingga membuat nya kembali menarik  selimut dan seolah-olah lupa jika ia harus kerja.

“ Ya ampun Jiena kamukan harus membantu Ibu Rose”  ucap Jiena sambil lari secepatnya ke kamar mandi, untuk mencuci muka dan kemudian menghampiri Ibu Rose yang tengah sibuk menyiapkan dagangannya.
“Maaf kan aku Bu aku memang tak tahu terima kasih, sudah numpang bangun kesiangan lagi” ucap Jiena sambil menciumi tangan Ibu Rose yang sedang memotong bawang bombai.
“ Tadak apa, sudah sana kamu buka restoran terus kamu balik  papan tulisannya” suruh Ibu Rose.
“ Iya Bu” ucap Jiena sambil berlari menuju pintu depan restoran  untuk membalik tulisan closed menjadi open .

Pelanggan pun mulai berdatangan dan membuat suasana menjadi ramai dan sempit karena memang restoran Ibu Rose boleh dibilang restoran paling popular di kotanya. Namun pemandangan tak biasa datang dari luar, seorang pria gagah serta tinggi semampai dengan mobil mewah yang terus memandangi kearah restoran. Hal itu membuat Jiena penasaran sehingga ia pun keluar untuk mencari tahu,  ia pun baru menyadari jika itu adalah pria yang sama yang ia temui di diskotik kemarin.

“ Hai “ sapa pria itu sambil membuka kacamata hitamnya.
“ Apa yang kamu lakukan” Tanya Jiena.
“ aku sedang menunggu mu, sebelumnya aku ingin makan di tempat mu bekerja” ucap pria itu sambil berjalan dengan memegang pinggang Jiena , karna risih Jiena berjalan dengan cepat agar bisa membuat pria itu memindahkan tangannaya dari pinggang Jiena mereka pun memasuki restaurant tempat Jiena berkerja dan seperti biasanya Jieana pun mengambilkan pesanan pria itu. Sepertinya pria itu menyukai Jiena karna ia tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Jiena sedikit saja.
“silahkan “ ucap Jiena seraya menurunkan makanan dan minuman darri atas nampannya.
“Kam manis sekali sayang” ucap pria itu.

“Terima kasih” kata Jiena  sebelum melangkah pergi karna sebenarnya ia mulai risih dengan perlakuan pria  itu yang terus menerus memandangaibya dengan tatapan aneh.
“ Dasar pria berengsek,  enak saja ia memanggilku seperti itu ( sambil duduk dan membaca buku hasil karyanya sendir) oh ya aku kan mau bertanya sesuatu padanya” ucap Jiena sambil bangkit dari tempat duduk dan kembali  menghampiri pria  itu sambil membawa bukunya.
Namun keinginan Jiena berhenti untuk sementara waktu karena ia melihat pria itu sudah tak ada di tempatnya, entah kemana ia pergi. Tiba-tiba ada sepasang tangan di pinggang Jiena dan ternyata tangan pria itu.
“ Kau mencariku” ucap pria itu yang semakin menambah keeratannya pada Jiena.
“Ah iya “ kata Jiena sembari membuang tangan itu.
“ Ayo, aku ingin pergi denganmu” ajak pria itu sambil mengalungkan tangannya pada bahu Jiena namun tak jadi  karna Jiena langsung mengelaj dan menjauh.
“ini kesempatanku, “ tunggu sebentar aku ingin membereskan ini dulu “ ucap Jiena sambil membawa sisa makanan pria itu ke dapur.

Sementara pria itu masih berdiri di tempat nya hungga kemudian berpindah karena penasaran dengan sebuah buku di atas meja  dan kemudia membuka lalu membacanya.
“ Apa ini buku miliknya, dia seorang penulis “ ucap pria  itu seraya membalik halaman demi halaman buku tersebut.

Jiena pun selesai dan kembali, ia  pun berlari dan melihat pria itu membaca bukunya.
“ Apa yang kamu lakukan” ucap Jiena dengan sedikit ngos-ngosan.
“ Tulisanmu bagus, aku bisa membantumu menjadi penulis dan aku punya juga perusahaan, telah banyak menerbitkan buku. Mungkin saja bukumu ini juga bisa aku terbitkan dipasaran.” Jelas pria itu dengan sangat baik.

“benarkah” seru Jiena girang .
“makanya ayo pergi sekarang aku sudah tidak sabar” ucap pria itu.
“ aku juga” balas Jiena .

Karena kegirangan Jiena pun langsung memutuskan untuk mengikuti pria itu dan naik kedalam mobilnya. Kebetulan pada saat itu Jinu sedang keluar karena ingin membuang sampah dan membuatnya melihat Jiena pergi bersama pria itu, Jinu pun berlari ke mobil tersebut namun sayang mobil tersebut telah pergi.

“ Jiena, jiena kan gw udah bilang lo jangan deket-deket sama dia” ucap Jinu dengan khwatir.
Sementara Jiena yang tidak sabar dengan janji pria tersebut  pun tak hhenti-hentinya tersenyum. Namun apa benar pria itu akan membuat Jiena menjadi seorang penulis. Mereka pun sampai pada sebuah kantor yang memiliki nama yang sama dengan ID Card pria itu yang sempat terbaca oleh Jiena kemarin.

“Wah, kamu benar bekerja disini” ucap Jiena kagum.
“ Iya” jawab pria itu singkat.

Pri itupun membawa Jiena ke sebuah ruangan yang dimana hanya di isi oleh para pengetik sebelum akhirnya diterbitkan.  Jiena pun hanya tersenyum bahagia karna ia tak menyangka bisa memasuki perusahan yang begitu besar dan juga terkenal. Pria itu membawa Jiena untuk menemui kepala penerbit kantor tersebut. Merka pun masuk, pria itu mmemberikan buku milik Jiena dan kepala penerbit itu membacanya.

“Bagus tapu saya perlu waktu untuk mepertimbangkan tulisan ini sebelum diterbitkan, kalau begitu anda bisa meninggal kan nomor ponsel anda untuk saya hubungi jika saya telah selesai membacanya “ ucap sang kepala.
“ Tidak  ada saya tidak memiliki  ponsel” kata Jiena.
“  Kalau begitu pakai nomor ini saja” ujar pria itu sembari menuliskan nomor tersebut secarik kertas.
Setelah selesai merka pun keluar dari kantor tersebut dan memasuki mobil pria tersebut.
“ Ini, untukmu” ujar pria itu sambil memegang sebuah ponsel canggih.
“ Ha, tidak usah aku tidak  membutuhkannya” uacap Jiena seraya mendorong sedikit pnsel tersebut.
“Ambil saja,nanti juga ponsel ini sangat membantumu karena nomor yang aku serahkan kepada kepala penerbit tadi adalah nomor yang ada di ponsel ini”jelas pria itu.
“ Mengapa kau begitu baik, padahal  kita belum lama saling mengenal lantas bagaimana cara aku membayarmu” ucap Jiena.

“ Benarkah kau akan membayarnya manis” ucap pria itu sambil tersenyum sembringah.
“ Iya” kata Jiena polos dan tak mengerti arti dari senyum sembringah pria itu.
“ Ambil lah ucap pria itu sambil meletakkan di atas kelapak tangan Jiena sehingga menyentuh tanagn Jiena”.

 Jiena pun mengambil ponsel tersebut.
“ Terima kasih” kata Jiena
 Sementara Jinu yang telah selesai bekerja pun langsung pergi ke restitan tempat Jiena bekerja namaun Ia hanya bertemu dangan Ibu Rose.
“ Bu, Jiena nya ada “ Tanya Jinu.
“ Nggak ada, dari tadi belum pulang Ibu juka tidak tahu  Dia pergi kemana “ ucap Ibu Rose.
“Belum pulang, yasudah saya permisi dulu ya Bu terima kasih” kata Jinu
Jinu pun langsung pergi mencari Jiena menggunakan sepeda motor bututnya. Sementara Jiena yang bersama pria tersebut pun tak mmerasakan ada yang aneh dengan pria tersebut.

“ Kamu nggak usah pulang kamu nginep di rummage aku saja, lagi pula ini  sudah malam” ucap pria itu dengan senyum sembringah menghiasi wajahnya.
Tapi nanti Bos ku mencariku bagaimana” ujar Jiena.
“ssuuut” ujar pria itu dengan  meletakkan telunjuknya pada bibir Jiena. 
Jiena pun mulai resah dengan perlakuan pria itu yang semakin tak wajar padanya sesungguhnya Jiena ingin pulang tapi Ia tak berani mengatakannya. Hingga pada akhirnya mereka sampai pada rumah mewah serta megah yang merupakan rumah pria tersebut. Pria itupun membawa Jiena masuk kedalam rumah tersebu.

“Masuklah” ucap pria itu sembari membuka pintu rumah tersebut Jiena pun ikut masuk, sesampainya didalam pria itu menunjukkan sebuah kamar yang bisa Ia gunakan untuk sementara.
“Kamu tidak ingin keluar bukankah kamu mengnyuruhku tidur “ ucap Jiena.
“ Tidak, aku mau tidur bersamamu” ujar pria itu sambil melangkah mendekati Jiena dan duduk  disampingnya. Mendengar ucapan pria itu Jiena pun menjadi takut sehingga menjauhi pria itu.
“Kau mau kemana sayang, bukankah kau akan membawarku” ujar pria itu genit.

“maksud mu” Tanya Jiena seraya semakin menjauh dari pria iitu
“Ayolah manis” ujar pria itu sambil mengejar Jiena yang berlari dari nya.
“Tidak, jangan macam-macam kamu” ucap Jiena dengan sedikit gemetar serta ngos-ngosan sambil berlari. Pria itu akhirnya berhasil menangkap Jiena.

“Ayolah manis,  aku bisa dengan mudah menyogok kantor itu untuk secepatnya menerbitkan tulisan kamu dan setelah itu aku bertanggung jawab atas semua ini” bujuk pria itu dengan manisnya.
“ Ya Allah, haruskah aku mengorbankan diriku demi cita-cita ku” gumam Jiena dalam hati.
“ Tidak, tidak mungkin” ujar Jiena sambil berlari ke   arah pintu dan membukanya namun tak semudah itu pria itu masih saja mengejarnya dan berhasil menangkapnya kembali. Tapi kali ni Jiena sudah bisa membaca situasi dan mulai membuat siasat licik.

“ Ayolah Jiena, aku biisa membuat mu menjadi penulis hebat dan setelah itu aku akan menikahimu” ucap  pria itu
“ Baiklah, jika itu bisa membuat semua mimpiku menjadi nyata aku mau melakukannya “ ujar Jiena dengan senyum licik di wajah manisnya.

Pria itu pun terkena perangkapnya. Kemudian pria itu membawa Jiena masuk dan setelah pria itu lengah Jiena langsung mengunci pintu sehingga membuat pria itu terkunci dari dalam.
“Kurang ajar kau Jiena “ ucap pria itu sembari terus menerus menendang pintu tersebut.
Sementara Jinu sampai di rumah pria itu, entah bagaimana Jinu bisa tahu jika Jiena berada di sana. Jinu pun langsung menerobos masuk dan terlihatlah Jiena yang tengah berlari.
“Jiena lo nggak papa kan “ Tanya Jinu sambil mengelus rambut serta wajah Jiena untik memastikan keadaannya.
“Tidak pria itu ingin berbuat jahat padaku” ucap Jiena dengan nafas terengah-engah.
“ Brengsek di mana dia” kata Jinu dengan marahnya.
“tidak Jinu”tegas Jiena dengan tatapan sayu khasnya yang bisa menenangkan Jihu.
Jinu pun pergi

“Kamu mau pergi kemana”Tanya Jiena yang kwatir jika Jinu berbuat aneh-aneh.
“Menelpon polisi”jawab Jihu sambil melepaskan tangannya dari genggaman Jiena.
Jinu pun menelepon polisi tak lama pun datang dan segera menangkap pria itu dan membawanya kekantor polisi.Jiena pun melihat pria itu dari jauh dan sempat tak menyangka pria yang di  anggapnya baik ternyata sebaliknya.

“Ayo”ajak Jinu.
“Ya”ucap Jiena.

Keduanya pun pulang dengan montor butut Jinu.Mereka pun sampai di restauran ibu Ros.
“Terima kasih”ucap Jiena.
“Eh,tapi bagaimana bisa kamu tahu kalau aku ada di sana  “ucap Jiena yang tak jadi  menyudahi perkataannya.
“Oh,itu,jadi sebenarnya Gw kenal sama cowok itu dia itu mantan  suami almarhum kakak Gw”  ucap  Jinu yang sebenarnya belum selesai tapi telah di salip oleh  Jiena.
“Almarhum”sela Jiena.

“Iya,kakak Gw meninggal juga gara-gara di,jadi dia  itu ninggalin kakak Gw dan setelah itu di nikah lagi  tapi karena  sayangnya kakak Gw sama cowok brensek itu jadi ia gak terima terus kakak Gw bunuh diri”jelas Jino lebih dalam.

“jadi begitu”ucap Jiena.
“tiba-tiba ponsel yang tadi diberikan peria itu pun bordering
“ah ponselku” ucap Jiena sambil mengeluarkannya dari saku joker coklatnya.
“Lo punya hp “Tanya Jinu kesal.
“Iya,pria itu yang memberikannya”ucap Jiena yang membuat Jinu kesal.
“Lo nolak pemberian Gw terus Lo terima pemberian dia”kesal Jinu
“ ssuuuut” seru Jiena  sambil meletakkan jempolnyapada bibir Jinu dan mungkin membuat Jinu bahagia.

Jinu tersenyum bahagia pada kelakukan Jiena tadi sementara Jiena pergi ke samping restorant untuk mengangkat telepon karena  tidak tahu caranya Jiena pun kembali kepada Jinu.

“ siapa” Tanya Jinu penasaran dengan memandang Jiena.
“ Aku tidak bisa membukanya “ jawab Jiena dengan polosnya dan membuat Jinu terkekeh.
“ Dasar bego” cela Jinu. 


Jinupun mengambil ponsel tersebut, untuk mengangkat telepon tersebut dengan cara menggesernya . setelah diangkat ternyata itu dari kantor yang tadi ia titipkan hasil tulisannya, dan mengatakan bahwa mereka bersedia untuk memmbuatnya menjadi buku, baru setelah itu diterbitkan ke pasar. Jiena pun senang begitu juga dengan Jinu ikut senang atas kebahagiaan Jiena.

bersambung.......

Kamis, 26 Desember 2019

Menggapai cita dan cinta 5# secercah harapan


Duduk termenung di  sebuah jembatan nampaknya menjadi hal indah bagi seorang Jiena dan tak ketinggalan sang sahabat juga ikut menemani siapa lagi kalau bukan  sebuah buku beserta teman tintanya.

“Aku jauh-jauh datang ke  sini tapi tak  ada hal yang aku lakukan selain menulis,apa  aku  pulang saja”Jiena  bergumam lalu  datang seorang pemuda tampan dengan hearphone di telinganya.
“Lo,gak bosen apa nulis mulu”.Ucap  pemuda itu yang membuat Jiena terkejut.
“Astagah”.Kaget Jiena.
“Sorry,heh cewek kereta nama Lo siapa sih”.Tanya sang pemuda kereta.
“Kamu sendiri?”.Tanya Jiena kembali.
                 “Jinu”jawab sang pemuda.
                 “Jiena, itu namaku”ujar Jiena.
                “Nomor HP”Tanya Jinu lagi.
                    Jiena hanya menggelengkan kepalanya.

“Nih nulis di sini(member  ipadnya pada Jiena),nulis disini capek harus megang pena  kalau disini Lo tinggal pencet-pencet “.Ucap Jihu sambil mengambil  buku  dan pena tersebut dari tangan Jiena.
              “Tidak mau”Jiena seraya merebut miliknya kembali namun benda tersebut dengan sengaja dijatuhkan Jihu ke bawah lalu hanyut di  sungai.

Karena kesal  Jiena pun pergi meninggalkan Jihu.
“Lo mau kemana?”.Tanya  Jihu seraya mengejar Jiena lalu memegang  lengannya.
“Lepas,aku mau pulang”.Kata Jiena seraya  menepis tangan  Jihu.
“Gw,anter”.Ucap Jihu tulus.

Jiena pun mengizinkan Jihu untuk  mengantarkannya pulang karena jarak tempat bekerja Jiena lumayan jauh jadi mereka menikmati indahnya lampu-lampu yang ada di jalanan sambil  berjalan  kaki.

15 menit  kemudian.

Mereka pun akhirnya sampai disebuah  restauran kecil tempat Jiena bekerja sekaligus tempat  tinggalnya.Lalu Jiena  pun memasuki kamarnya sementara Jihu telah pergi.Sang pemilik  restauran itu pun  menghampiri Jiena ke kamarnya.

“Jiena ,kamu sudah tidur”.Ucap  sang pemilik restauran yang  merupakan  seorang janda paruh  baya dengan hati  yang  mulia.
“Ah,ibu Rose ada apa  bu”.Tanya Jiena seraya menarik selimut yang  semula ia gunakan  untuk menutupi wajahnya.
“Enggan,ibu Cuma mau bilang kalau  besok pagi kamu ikut ibu ke pasar ibu  mau beli perlengkapan restaurant”.Jelas ibu Rose.

“Iya ,besok aku akan  bangun lebih pagi dari  biasanya”ucap  Jiena  seraya menutup mulutnya yang menguap.
“Ya,sudah tidur sana”ujar ibu Rose sambil membelai lembut rambut Jiena sebelum akhirnya keluar.
Keadaan restauran pun menjadi sunyi dan gelap gulita karena semua  lampu telah  di matikan Ibu Rose.Sementara Jihu masih terjaga karena  ia masih bekerja,sama seperti Jiena juga seorang waiter di sebuah diskotik besar yang selalu ramai pengunjung dan selalu tutup lewat tengah malam.
“Aauuuh,gw ngantuk lagi”ucap Jihu sambil  mengucek matanya yang telah sangat lelah itu.

Tepat pukul 01.00 pagi diskotik itu pun tutup sehingga Jihu pulang dan beristirahat.Cahaya mentari pun mulai menerobos kegelapan malam sehingga  itu pertanda jika hari telah pagi.Seperti janjinya Jiena pun bangun karena ia harus pergi ke pasar.

“Ayo”ajak ibu Rose.
Mereka berjalan sangatlah intim seperti layaknya seorang ibu dan anak.Setelah sepuluh menit perjalanan sampailah mereka pada sebuah pasar tradisional yang berada tak jauh  dari restaurannya.Mereka pun  mulai memilik  sayuran  serta buah-buahan dan  keperluan lainnya.Terdengarlah sebuah suara mobil,Jiena yang  mendengar hal itu pun memalingkan pandangannya sejenak dari sayuran.Lalu turunlah seorang pemilik mobil yang ternyata adalah seorang wanita.Jiena yang merasa penasaran pun ingin mendekati sang wanita meskipun di cegah oleh Ibu Rose.

“Mau kemana kamu”kata Ibu Rose sembari menyamakan posisinya dengan Jiena.
“Sebentar saja bu,aku ingin pergi  sebentar ,sebentar saja”ucap Jiena sambil berlari.
Setelah dirasa cukup dekat Jiena berhenti dari larinya.Hal itu pun membuat wanita itu gugup karena ia takut orang di dalam mobil mengetahui segalanya ,sehingga dengan sigap wanita itu ingin melarikan diri namun Jiena segera menahannya.

“Ibu ,kau kah itu?”Tanya Jiena dengan harapan yang tinggi.
“Bukan,bukan,aku bukan ibumu”tegas wanita itu.
“Kau ibuku,itu benar”ucap Jiena sambil terus menahan lengan ibunya yang berusaha melarikan diri.
Menyadari ada suara berisik dari luar seseorang  di dalam mobil pun keluar.
“Apa-apaan ini” ucap lelaki tersebut yang merupakan suami dari wanita tersebut.
“Dia ibuku mengapa kau bersamanya”ucap Jiena sembari melototi lelaki itu.
“Bukan!”ucap yura dengan keras agar suaminya tak terpengaruh pada Jiena.
“Ah ,kau itu Yura ibuku”tegas Jiena dengan emosi ,entah kapan ggadis pendiam itu berubah mengerikan seperti itu.
“Yura apa itu benar “Tanya lelaki itu.
“Tidak ,itu tidak benar aku sudah bilang jika anakku hanya giena tak ada yang lain, ayo kita pergi dia itu  orang gila yang Cuma mau minta uang sama kita” ucap Yura .
“Ah aku memang gila karena aku sudah tak punya siapa-siapa lagi” kata Jiena sambil menahan air matanya  yang telah berhasil keluar dari matanya.
Mendengar ucapan Jiena membuat Yura sedikit kaget hingga membuatnya mematika langkahnya sejenak.
“Maafkan Ibu nak” lirih Yura dalam hati.
“Ayo” ucap sang suami.
Jienapun kembali karena ia tahu pasti Ibu Rose sudah menunggunya sambil terus menghapus air mata yang tak henti-henti keluar.
“Kamu dari mana saja,  ayo pulang” ucap Ibu Rose yang sepertinya tidak  mengetahui apa yang dialami oleh Jiena
Jiena pun mengangguk, keduanyapun segera pulangnamun dijaln Ibu Rose melupakan sesuatu.
“Aduh ada yang ketinggalan (menepuk jidatnya ), kamu pulang dulu sana  Ibu mau balik lagi  ke pasar” seru Ibu Rose.
Jienapun membawa semua belanjaan yang cukup banyak sehingga membutuhkan kerja  sama antara kedua tanganya. Jinu yang sedang bekerja pun melihat Jiena yang tengah membawa banyak barang iapun keluar untuk membantu.
“Biar gue bawa  “ ujar Jinu
“Tidak usah, ini ringan jadi aku bisa sendiri” ujar Jiena yang ingin menolak bantuan yang Jinu berikan namun tak di gubrisnya.
Jinu membawakan semua barang yang sebelumnya di bawa Jiena seperti layaknya seorang kekasih yang sangat menyayangi wanitanya dan  tak ingin melihatnya kelelahan. Meraka pun sampai Jinu langsung membawanya kedapur.
“Terima kasih “ ucap Jiena.
“Sama-sama,mata lo kenapa (sambil medekati Jiena hingga jarak yang sangat dekat) lo nangis “ Tanya Jinu dengan lembut.
“Tidak “ tegas Jiena sambil mendorong wajah Jinu
“Nih (sambil mencopot aerphone dari telinga ) kata orang music bisa mengubah suasana hati makanya gw selalu pakek “ ucap Jinu.
“tapi aku tidak bisa menggunakannya “ ucap Jiena.
Lalu dengan sabar Jinu memasangkan earphone tersebut pada telinga kanan dan kiri nya lalu memutarkan satu lagu yang menjadi favorit Jino.
“Nah, udah gw pamit, bye” ujar Jinu singkat lalu pergi.
“Enak juga lagunya “ ucap Jiena pelan.

Ibu Rose pun kembali lalu mereka pun memulai memasak karena  sebentar lagi restoran akan di buka. Jiena  pun melayani para pelanggan dengan senyuman manis yang menjadi ciri khasnya dan mungkin itu yang membuat para pelanggan semakin ramai selain karena kualitas makanannya. Setalah dirasa sepi Jiena pun pergi ke dapur dan melamunkan tentang  kejadian tadi pagi sembari mendengarkan musik dari earphone milik Jinu meskipun dengan satu  musik  yang diputar sampai habis lalu diulang terus-menerus.     

“Mencari Ibu,  memang tak ada gunanya lebih baik mencari uang sendiri dan hidup sendiri, aku pasti bisa demi cita-cita” ucap Jiena yang mencoba menyemangati dirinya.

Lalu Jiena pun kembali kedepan dan  membereskan piring-piring  yang ada di meja dan mencucinya.
“Oh, ya “ ucap Jiena seraya mencabut earphone tersebut dari kedud telinganya lalu menggulungnya pada ipad tersebut.

Jiena pun pergi ke tempat kerja Jinu, karena tak terlihat adanya Jinu, Jiena pun masuk kedalam diskotik tersebut, namanya juga diskotik tentu didalmnya terdapat banyak pria bajingan lalu seketika Jiena pun menjadi pusat perhatian  dan banyak yang  menggodanya karena Jiena memang memiliki wajah yang manis serta senyum yang ramah .

“Hai, manis mau kemana yuk minum dulu sama aku, nanti aku kasih sesuatu deh” goda pria tersebut seraya menarik baju Jiena tapi ditepis oleh Jiena dank arena pria itu memaksa dan tak enak hati Jiena menuruti permintaannya.
“Cuman minum saja “ ucap Jiena sedikit gemetar.
Pria itu mengangguk,  Jiena pun dibawa oleh sangpria ketempat duduknya dan memesankan segelas minuman tanpa alcohol untuk Jiena . Jiena pun meminumnya tak terjadi apapun sementara dari kejauhan Jinupun melihat Jiena yang sedang bersama seorang pria tak dikenal, Jinopun menghampiri Jiena dan menariknya secara paksa. Namun sempat beradu mulut sebentar engan pria tersebut.
“Wait-wait mau dibawa kemana si manis ini” ucap pria misterius itu sembari memegang tangan kiri Jiena.
“Bukan urusan lo” kesal  Jinu sambil  membawa Jiena keluar namun lagi-lagi ditahan pria itu.
“Dia cewek gw” tegas pria misterius itu sambil menarik Jiena hingga membuat tak jarak antara mereka . 

Karena jark sedekat itu antara Jiena dan pria itu membuat Jinu meradang dan langsung menyepa pipi pria itu dengan satu tonjokan sedang.

“Kurang ajar” ucap pria itu sambil samil  menonjok pipi kanan Jinu dengan kuat.
“ Jinu berhenti” ucap Jiena yang ingin melerai Jinu dan pria itu. Namun nampaknya amarah  Jinu sudah  meradang   hingga tinjunya mendarat lagi di pipi kiri  pria itu karena yang sebelah kanan telah mendapat bagian.

Pria itu pun terpental dan menjatuhkan seperti ID card dan sempat dilihat sedikit oleh Jiena sebelum dipungut kembali oleh pria itu. Dengan segera Jiena menarik Jinu dan membawanya keluar diskotik.
“ Jinu kamu sebenarnya kenapa, mengapa kamu seperti itu tadi” Tanya Jiena dengan sedikit marah.
“Gw cuma mau melindungi lo, laki-laki itu tadi jahat dia mau ngapain-ngapain lo!” jawab Jinu.
“Yudah , ini punya kamu (memberikan earphone serta ipad milik Jinu ) makasih aku mau pulang.
“ tunggu gw ikut” ucap Jinu seraya melepaskan celemek kerjanya.
“ Emangnya jam kerja kamu sudah selesai “ kata Jiena.
“ bentar lagi sih, tapi bodoh amatlah gw mau pulang” ucap Jinu sambil menarik Jiena.

Mereka berdua pun berjalan beriringanan tak saling bicara  karena kedua nya tengah sibuk dengan urusan masing-masing, Jinu mendengarkan music sementara Jiena  terlihat sedang memikirkan sesuatu.

 “ PT. Karya Topa Putra,  bukankah itu semacam perusahaan yang aktif menerbitkan buku-buku” gumam Jiena yang cukup kuat sehingga Jinupu bisa mendengarnya.
“kenapa “ Tanya Jinu yang sengaja mendengar gumaan JIena dan hanya dibalas senyuman olehnya.
 Merekapun kembali berjalan  di bawah terangnya para bintang yang menjadi satu dan Nampak sangat indah bila dipandang dari bawah. Mereka pun berenti pada sebuah jembatan yang sama pada waktu lalu. Jinu pun mencabut satu earphone nya kemudian ia masukkan ke dalam telinga Jiena.
“Ah” ucap Jiena yang sedikit terkejut.

 Mereka pun mendengarkan music bersam-sama sehinggan pemandangan itu akan membuat siapa saja salah sangka dan akan mengira bahwa mereka adalah sepassang kekasih yang tengah dimabuk asmar namun nyatanya tidak demikian mereka hanyalah sepasang anak muda yang hanya berstatus teman. Karena lelah tak sadar Jinu pun tertidur di bahu Jiena dansemakin lama kepalanya makin ke bawah sehingga di arahkan oleh Jiena ke pahanya.Jinu tertidur sangat lelap sementara Jiena masih memikirkan pria yang iatemui di diskotik tadi.

“Apa aku besok kesana lagi buat nanya sama dia?, ah enggak aku tidak mau kalau Jinu bertengkar lagi” ucap Jiena pada diri sendiri.
“ Tapi, siapa tahu dia bisa membantu aku” ucap Jiena kembali.
Sudah satu jam Jinu pun masih belum bangun juga,  hari sudah lewat tengah malam dan pastinya Ibu Rose akan memarahi jiena karna pulang terlalu larut. Jiena pun akhirnya mencoba untuk membangunkan Jinu.
“ Jinu,Jinu bangun ayo pulang” ucap Jiena sembari menggoyangkan tubuh Jinu agar membuatnyya cepat bangun.
Butuh beberapa lama bagi Jiena agar bisa membuat Jinu bangun dari tidur lelapnya. Jinu pun bangun.
“ Astaga “ ucap Jinu kaget.
“Bangun ayo pulang” kata Jiena masih dalam posisi duduk dan menjadi bantal Jinu.
“Dari tadi gw tidur di kaki” ucap Jinu seraya mengubah posisinya menjadi berdiri.
“Ayo pulang” ajak Jiena sambil melakukan peregangan lalu berdiri.
“Kaki lo pegel ya sini gw gendong” ucap Jinu seraya merendahkan tubuhnya
“ Tidak mau, kamu piker aku anak kecil tolak Jiena dengan tegas sambil mempercepat jalannya karena ucap Jinu sedikit membuat Jiena malu.

“Hey tunggu”ucap  Jinu seraya menambah kecepatannya agar bisa menyelaraskannya dengan Jiena.
Kemudian lewatlah sebuah mobil yang ternyata adalah mobil Yura dan suaminya namun tak ada yang dapat Jiena lakukan selain hanya memandangnya.Hal itu pun membuat Jinu penasaran karena seketika Jiena berubah setelah lewatnya mobil itu.
“Woy,bengong ,emangnya itu siapa sih”Tanya Jinu.
“Bukan siapa-siapa”jawab Jiena singkat.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka seperti biasa Jinu mengantar Jiena pulang barulah setelah itu dirinya yang pulang.

bersambung......