
Disebuah bangku panjang sekolah terlihat
seorang gadis remaja yang tengah asyik memandangi sebuah kertas putih yang
tergoreskan banyak sekali tinta pena didalamnya. Ia memang lebih senang membagi
perasaaannya kepada kertas dan pen karena ia tidak punya teman lain, selain
kedua benda itu. Dulu ia termasuk siswi populer dan penuh prestasi tapi
semenjak banyak yang tahu masalah keluarganya sepuluh tahun yang lewat, ia
selalu menjadi bahan ejekan temannya sehingga membuat ia terpuruk.
Terdengarlah suara dari belakang: “jiena”
jiena pun menoleh, ternyata suara itu milik mino, yang terlihst menyimpan rasa
pada jiena sehingga ia selalu mencari kemanapun jiena pergi.
“apa yang kau lakukan” tanya mino.
“ ah, tidak “ jawab jiena, sambil memasukkan
kertas tersebut kedalam saku seragamnya.
Lalu mino pun berpindah posisi yang semula
duduk disamping jiena kini berada didepan jiena.
“ kenapa kamu selalu saja begitu,memendam
semuanya sendiri apa kamu tidak lelah,ayolah aku juga mau menjadi tempat
pengaduanmu”ujar mino.
“sudahlah,ini bukan masalah besar” tegas
jiena.
“apa kau selama ini buta atas perhatianku
padamu”kata mino.
“ apa yang kamu katakan sudahlah aku ingin
kekelas” ujar jiena sambil beranjak dari tempak duduk lalu pergi.
Jiena pun meningggalkan mino sendiri, padahal sedikit lagi mino akan
mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamny dalam – dalam.
Bel sekolah pun berbunyi dan mengisyaratkan para siswa untuk pulang.
Seperti biasa jiena dan mino pun pulang bersama karena rumah yang berjarak tak
jauh antara satu sama lain.tak seperti biasanya kali ini mereka terlihat hanya
diam tanpa bercakap.
“ berhenti” kata mino.
“ ia ada apa” tanya jiena.
“aku sudah sampai, kalau begitu aku masuk”
ujar mino,sambil membuka pintu gerbang rumahnya lalu masuk.
“ ada apa dengannya” ujar jiena sedikit
bingung dengan sikap mino.
Diperjalanan solonya jiena ditemani dengan nyanyian para jangkrik yang
terdengar sangat kacau namun lumayan untuk mengisi sunyinya malam. Jiena pun
berhenti karena sepertinya ia sudah sampai.
“ayah aku pulang, mengapa sangat sepi apa yang
ayah sedang tidur”tanya jiena.
Lalu jiena pun berjalan menuju kamar yang
biasa ayahnya gunakan untuk istirahat pun kosong.
“ kemana ayah pergi” gumam jiena dalam hati
Jiena pun terus mencari ayahnya keseluruh
penjuru rumahnya hingga pada akhirnya jiena menemukan ayahnya dalam kondisi
bertambah parah karena biasanya dani bisa berjalan namun sekarang membuka mulut
pun rasanya tabu untuk dilakukan.
“ ayah, ayah tidak papakan,jawab aku ayah “
ucap jiena dengan berlinang air mata.
Dani pun hanya bisa memandangi wajah putri
bungsu itu dengan penuh kasih sayang eperti layaknya seseorang yang ingin
menyampaikan sesuatu tapi tak bisa sehingga dani hanya bisa nangis.
“mengapa ayah diam saja”tanya jiena.
Tak lama kemudian dani pun menutup matanya
entah ia pingsan ataupun pergi untuk selamanya. Sementara mino yang berada
dirumah pun merasakan ada yang mengganjal di penaknya,dan ia pun memutuskan
untuk pergi menemui jiena.
Minopun sampai, alangkah terkejutnya ia
setelah didapatinya keadaan ayah jiena yang tengah sekarat. Mino pun langsung
menempelkan tangannya pada pergelangan ayah jiena untuk memeriksa denyut
nadinya.
“kenapa tidak terasa apa – apa gumam mino,
sambil mengecek bagian lainnya.
“jiena, sepertinya ayah kamu sudah pergi “
jelas mino.
Sekeras apapun menangis tak akan mengubah
apapun yang telah digariskan olehnya karena mungkin itu yang terbaik.
bersambung.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar