Selamat Datang Di Blog Saya

Kamis, 26 Desember 2019

Menggapai cita dan cinta 3# cahaya yang kembali bersinar



Dikegelapan malam yang sunyi dan hanya di temani oleh sepasang lampu togok yang berada didua sudut ruangan pun terlihatlah bayangan yang terlihat seperti seorang gadis memandangi ruangan kosong yang telah ditinggal pergi oleh sang ayah.
“tak mungkin hidupku akan selalu begini, aku juga mau bisa punya segalanya layaknya orang lain,apa aku harus mencari ibu,ah tidak”ucap jienna pada diri – sendiri.

        Tiba – tiba terdengarr suara dari telepon genggam yang diberikan mino padanya agar mudah dihubungi. Dan terpampanglah nama mino.
“ ya, ada apa” tanya jiena.
“ ayo kita keluar, aku ingin pergi denganmu” ajak mino dengan semangat.
“ aku tidak mau” ketus jiena.
“keluarlah aku sudah didepan” ucap mino.
“ hha” jawab jiena dengan kaget.

      Jiena pun keluar rumah dan terlihatlah sesosok pria tinggi dengan senym manis didepan pintu untuk meyamputnya. Sehingga tak ada pilihan lain selain ikut dengannya.
“ ayo” ajak mino sambil menarik lengan jiena.
       Jiena dan mino pun pergi bukan untuk jalan – jalan melainkan hanya duduk di atas pohon mangga meskipun begitu tetaplah terasa indah jika berdua.
“ mino, besok aku ingin kekota , aku ingin mencari uang yang banyak “ ujar jiena.
“ memangnya kau mau apa kesana” tanya mino sedikit kesal.
“ apa saja” jawab jiena santai.
“ lalu sekolahmu bagaimana “ tanya mino.
“ aku akan keluar “ tegas jiena.
“ terserahmu” ucap mino kecewa.

     Hari pun semakin larut dan yang dilakukan sepasang anak muda itu hanya memandangi bulan yang akan hilang ditelan awan hitam. Karena bosan mino pun mengeluarkan ponselnya lalu memainkannya, sementara jiena hanya bisa memandangi ponsel bututnya.
      Waktu pun sudah menunjukkan pukul 24.00, jiena pun beranjak turun sementara mino masih asik dengan benda pipih putihnya itu dan pura – pura tak melihat jiena. Setelah keberadaan jiena lumayan jauh, barulah mino memanggi jiena yang semakin lama semkin hilang.
“ ah bodoh kau mino, mengapa kau membiarkannya pergi” kesal mino pada dirinya, sambil turun dan pulang kerumahnya.

       Sementara jiena yang tengah sibuk mengemas pakainya dan tanpa sengaja ia menemukan sebuah lukisan yang ia lukis dulu.
“ sekarang semuanya telah hilang, semua kebahagiaan bahkan mimpiku yang sudah aku susun dengan rapi hilang sidah , ah apalah arti hidup tanpa sebuah cita – cita” ucap jiena..
        Malam pun berganti pagi sehingga waktunya matahari yang bertugas menggantikan bulan. Jiena pun bersiap untuk pergi, setelah selesai ia pergi keluar rumah lalu kemudian meninggalkan benda persegi tersebut.

Jiena pun menyusuri bahu jalan,hingga ia sampai didepan rumah mino.
“ sampai jumpa mino, terimakasih atas semuanya” ucap jiena sambil berkaca..
        Jiena pun meletakkan posel butut pemberian mino didepan pintu rumahnya karena kebetulan gerbang nya tak dikunci jadi jiena bisa masuk.

         Jiena akhirnya pergi meninggalkan rumah mino dan tentu saja kampung permai kesayangannya. Sampai akhirnya ia sampai di stasiun dan menunggu kareta yang akan berangkat. Lalu kera pun lewat jiena pun naik dan terlihat lah sosok mino yang rupanya sedari tadi mengikuti jiena dari nelakang untuk menyaksikan kepergiaan sahabat tercintanya.

        Kereta pun mulai melaju perlahan dan kemudian cepat sehingga mino hanya melihat jiena dari kaca jendela, sebelum akhirnya hilang seiring lajunya kereta

“ hati – hati dijalan jiena semoga engkau mendapat apa yang kau inginkan. Dan jangan kau lupakan aku. “ teriakkan mino sambil ia berlari mengejjar kereta yang dinaiki jiena.      

bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar