Dikegelapan malam yang sunyi dan hanya di
temani oleh sepasang lampu togok yang berada didua sudut ruangan pun
terlihatlah bayangan yang terlihat seperti seorang gadis memandangi ruangan
kosong yang telah ditinggal pergi oleh sang ayah.
“tak mungkin hidupku akan selalu begini, aku
juga mau bisa punya segalanya layaknya orang lain,apa aku harus mencari ibu,ah
tidak”ucap jienna pada diri – sendiri.
Tiba
– tiba terdengarr suara dari telepon genggam yang diberikan mino padanya agar
mudah dihubungi. Dan terpampanglah nama mino.
“ ya, ada apa” tanya jiena.
“ ayo kita keluar, aku ingin pergi denganmu”
ajak mino dengan semangat.
“ aku tidak mau” ketus jiena.
“keluarlah aku sudah didepan” ucap mino.
“ hha” jawab jiena dengan kaget.
Jiena pun keluar rumah dan terlihatlah sesosok pria tinggi dengan senym
manis didepan pintu untuk meyamputnya. Sehingga tak ada pilihan lain selain
ikut dengannya.
“ ayo” ajak mino sambil menarik lengan jiena.
Jiena dan mino pun pergi bukan untuk jalan – jalan melainkan hanya duduk
di atas pohon mangga meskipun begitu tetaplah terasa indah jika berdua.
“ mino, besok aku ingin kekota , aku ingin
mencari uang yang banyak “ ujar jiena.
“ memangnya kau mau apa kesana” tanya mino
sedikit kesal.
“ apa saja” jawab jiena santai.
“ lalu sekolahmu bagaimana “ tanya mino.
“ aku akan keluar “ tegas jiena.
“ terserahmu” ucap mino kecewa.
Hari pun semakin larut dan yang dilakukan sepasang anak muda itu hanya
memandangi bulan yang akan hilang ditelan awan hitam. Karena bosan mino pun
mengeluarkan ponselnya lalu memainkannya, sementara jiena hanya bisa memandangi
ponsel bututnya.
Waktu
pun sudah menunjukkan pukul 24.00, jiena pun beranjak turun sementara mino
masih asik dengan benda pipih putihnya itu dan pura – pura tak melihat jiena.
Setelah keberadaan jiena lumayan jauh, barulah mino memanggi jiena yang semakin
lama semkin hilang.
“ ah bodoh kau mino, mengapa kau membiarkannya
pergi” kesal mino pada dirinya, sambil turun dan pulang kerumahnya.
Sementara jiena yang tengah sibuk mengemas pakainya dan tanpa sengaja ia
menemukan sebuah lukisan yang ia lukis dulu.
“ sekarang semuanya telah hilang, semua
kebahagiaan bahkan mimpiku yang sudah aku susun dengan rapi hilang sidah , ah
apalah arti hidup tanpa sebuah cita – cita” ucap jiena..
Malam pun berganti pagi sehingga waktunya matahari yang bertugas
menggantikan bulan. Jiena pun bersiap untuk pergi, setelah selesai ia pergi
keluar rumah lalu kemudian meninggalkan benda persegi tersebut.
Jiena pun menyusuri bahu jalan,hingga ia
sampai didepan rumah mino.
“ sampai jumpa mino, terimakasih atas
semuanya” ucap jiena sambil berkaca..
Jiena pun meletakkan posel butut pemberian mino didepan pintu rumahnya
karena kebetulan gerbang nya tak dikunci jadi jiena bisa masuk.
Jiena akhirnya pergi meninggalkan rumah mino dan tentu saja kampung
permai kesayangannya. Sampai akhirnya ia sampai di stasiun dan menunggu kareta
yang akan berangkat. Lalu kera pun lewat jiena pun naik dan terlihat lah sosok
mino yang rupanya sedari tadi mengikuti jiena dari nelakang untuk menyaksikan
kepergiaan sahabat tercintanya.
Kereta pun mulai melaju perlahan dan kemudian cepat sehingga mino hanya
melihat jiena dari kaca jendela, sebelum akhirnya hilang seiring lajunya kereta
“ hati – hati dijalan jiena semoga engkau
mendapat apa yang kau inginkan. Dan jangan kau lupakan aku. “ teriakkan mino
sambil ia berlari mengejjar kereta yang dinaiki jiena.
bersambung......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar