Selamat Datang Di Blog Saya

Jumat, 08 November 2019

Seputar film

Film merupakan hiburan tersendiri bagi sebagian orang, Menonton film memang menyenangkan, terlebih kalau film tersebut sudah kita tunggu-tunggu.

Saat ini, kita bisa dengan mudah menonton film karena semakin banyak bioskop dan hampir setiap bulan ada film baru.

Selain itu, kita juga bisa menyaksikan film di TV, DVD,CD, Bahkan diinternet melalui ponsel ataupun laptop.

Secara bahasa, film (cinema) asalnya dari kata cinematographie yang memiliki arti cinema (gerak), tho atau phytos (cahaya) dan graphie atau grhap (tulisan, gambar, citra). Sehingga bisa diartikan Film merupakan mewujudkan gerak dengan cahaya. Mewujudkan atau Melukis gerak dengan cahaya tersebut menggunakan alat khusus, seringkali alat yang digunakan adalah kamera.

Sedangkan definisi film menurut ahli adalah
Effendi (1986:239)
Pengertian Film menurut Effendi adalah hasil budaya dan alat ekspresi kesenian. Film sebagai komunikasi massa merupakan gabungan dari berbagai teknologi seperti fotografi dan rekaman suara, kesenian baik seni rupa dan seni teater sastra dan arsitektur serta seni musik.

Kridalaksana (1984:32)
Pengertan film menurut Kridalaksana adalah:

Lembaran tipis, bening, mudah lentur yang dilapisi dengan lapisan antihalo, dipergunakan untuk keperluan fotografi.
Alat media massa yang memiliki sifat lihat dengar (audio visual) dan dapat mencapai khalayak yang banyak.

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Pengertian film menurut KBBi adalah selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan dibuat potret) atau untuk tempat gambar positif (yang akan dimainkan di bioskop).

Menurut UU Perfilman, film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam dengan pita seluloid, pita video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan/atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik, dan/atau lainnya.

Jadi Film merupakan hasil cipta karya seni yang memiliki kelengkapan dari beberapa unsur seni untuk melengkapi kebutuhan yang sifatnya spiritual. Unsur seni yang ada dan menujang sebuah film antara lain seni rupa, seni fotografi, seni arsitektur, seni tari, seni puisi sastra, seni teater, seni musik, yang ditunjukan untuk masyarakat luas.


Sejarah film tidak bisa lepas dari sejarah fotografi. Dan sejarah fotograf tidak bisa lepas dari peralatan pendukungnya, seperti kamera.

Kamera pertama di dunia ditemukan oleh seorang Ilmuwan Muslim, Ibnu Haitham. Fisikawan ini pertama kali menemukan Kamera Obscura dengan dasar kajian ilmu optik menggunakan bantuan energi cahaya matahari.

Mengembangkan ide kamera sederhana tersebut, mulai ditemukan kamera-kamera yang lebih praktis, bahka inovasinya demikian pesat berkembang sehingga kamera mulai bisa digunakan untuk merekam gambar gerak.

Ide dasar sebuah film sendiri, terfikir secara tidak sengaja. Pada tahun 1878 ketika beberapa orang pria Amerika berkumpul dan dari perbincangan ringan menimbulkan sebuah pertanyaan: “Apakah keempat kaki kuda berada pada posisi melayang pada saat bersamaan ketika kuda berlari?" Pertanyaan itu terjawab ketika Eadweard Muybridge membuat 16 frame gambar kuda yang sedang berlari. Dari 16 frame gambar kuda yang sedang berlari tersebut, dibuat rangkaian gerakan secara urut sehingga gambar kuda terkesan sedang berlari. Dan terbuktilah bahwa ada satu momen dimana kaki kuda tidak menyentuh tanah ketika kuda tengah berlari kencang Konsepnya hampir sama dengan konsep film kartun.

Gambar gerak kuda tersebut menjadi gambar gerak pertama di dunia. Dimana pada masa itu belum diciptakan kamera yang bisa merekam gerakan dinamis.

Setelah penemuan gambar bergerak Muybridge pertama kalinya, inovasi kamera mulai berkembang ketika Thomas Alfa Edison mengembangkan fungsi kamera gambar biasa menjadi kamera yang mampu merekam gambar gerak pada tahun 1888, sehingga kamera mulai bisa merekam objek yang bergerak dinamis.

Maka dimulailah era baru sinematografi yang ditandai dengan diciptakannya sejenis film dokumenter singkat oleh Lumière Bersaudara.

Film yang diakui sebagai sinema pertama di dunia tersebut diputar di Boulevard des Capucines, Paris, Prancis dengan judul Workers Leaving the Lumière's Factory pada tanggal 28 Desember 1895 yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya sinematografi. Film inaudibel yang hanya berdurasi beberapa detik itu menggambarkan bagaimana pekerja pabrik meninggalkan tempat kerja mereka di saat waktu pulang.

Meskipun hanya berdurasi 46 detik, ternyata film yang dibuat tahun 1895 itu bisa membuka pandangan dunia terhadap film

Sebelumnya, sudah ada film berjudul Roundhay Garden Scene atau "Adegan Taman Roundhay yang dibuat oleh Louis Le Prince dengan durasi dua detik saja.

Meskipun Lumiere Bersaudara membuat film setelah Louis Le Prince, film dua bersaudara ini dianggap sebagai sejarah film dunia karena memiliki durasi yang lebih panjang dan membuat banyak orang mengetahui adanya film.

Louise dan Auguste Lumiere  adalah dua orang pertama yang menemukan alat yang bisa digunakan untuk memproyeksikan gambar bergerak pertama

Alat yang dibuat Lumiere bersaudara bernama sinematograf. Alat ini dibuat menggunakan peralatan ayahnya, yang merupakan seorang fotografer.

Sinematograf yang dibuat oleh Lumiere Bersaudara terinspirasi dari teknologi kinetoskop milik Thomas Alfa Edison yang saat itu hanya bsia dinikmati oleh satu orang saja.

Setelah dikembangkan, sinematograf buatan Lumiere Bersaudara menampilkan gambar bergerak yang bisa dilihat banyak orang

Untuk itu, mereka membuat kamera dan proyektor yang bisa membuat gambar menjadi berukuran lebih besar sehingga bisa dinikmati oleh banyak orang.

Pada 28 Desember 1895, mereka memutarkan film yang sudah mereka buat dengan mengadakan pertunjukan di Salon du Grand Caf, Paris.

Setelah film buatan Lumiere Bersaudara sukses dan ditonton banyak orang, semakin banyak film yang dibuat

Film-film tersebut kemudian banyak dipertontonkan dari satu kota ke kota lainnya melalui bioskop keliling

pada tahun 1899, George Melies mengawali menampilkan film dengan gaya editing yang judulnya “Trip To The Moon”. Pada tahun 1902, Edwin Peter memproduksi film yang judulnya “Life Of In American Fireman”

Kemudian film dan bioskop ini terselenggara pula di Inggris (Februari 1896), Uni Sovyet (Mei 1896), Jepang (1896-1897), Korea (1903) dan di Italia (1905).

Perubahan dalam industri perfilman, jelas nampak pada teknologi yang digunakan. Jika pada awalnya, film berupa gambar hitam putih, bisu dan sangat cepat, kemudian berkembang hingga sesuai dengan sistem pengelihatan mata kita, berwarna dan dengan segala macam efek-efek yang membuat film lebih dramatis dan terlihat lebih nyata.

Di Indonesia, film pertamakali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta). Pada masa itu film disebut “Gambar Idoep".

Pertunjukkan film pertama digelar di Tanah Abang. Film adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Pertunjukan pertama ini kurang sukses karena harga karcisnya dianggap terlalu mahal. Sehingga pada 1 Januari 1901, harga karcis dikurangi hingga 75% untuk merangsang minat penonton.

Film cerita pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film-film impor ini berubah judul ke dalam bahasa Melayu. Film cerita impor ini cukup laku di Indonesia. Jumlah penonton dan bioskop pun meningkat.Daya tarik tontonan baru ini ternyata mengagumkan.

Film lokal pertama kali diproduksi pada tahun 1926. Sebuah film cerita yang masih bisu. Agak terlambat memang. Karena pada tahun tersebut, di belahan dunia yang lain, film-film bersuara sudah mulai diproduksi. Film cerita lokal pertama yang berjudul Loetoeng Kasaroeng ini diproduksi oleh NV Java Film Company.

Film lokal berikutnya adalah Eulis Atjih yang diproduksi oleh perusahaan yang sama. Setelah film kedua ini diproduksi, kemudian muncul perusahaan-perusahaan film lainnya seperti Halimun Film Bandung yang membuat Lily van Java dan Central Java Film Coy (Semarang) yang memproduksi Setangan Berlumur Darah.

Industri film lokal sendiri baru bisa membuat film bersuara pada tahun 1931. Film ini diproduksi oleh Tans Film Company bekerjasama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer.

Selama kurun waktu itu (1926-1931) sebanyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Jumlah bioskop meningkat dengan pesat. Filmrueve (majalah film pada masa itu) pada tahun 1936 mencatat adanya 227 bioskop.

Untuk lebih mempopulerkan film Indonesia, Djamaludin Malik mendorong adanya Festival Film Indonesia (FFI) I pada tanggal 30 Maret-5 April 1955, setelah sebelumnya pada 30 Agustus 1954 terbentuk PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia).

Film Jam Malam karya Usmar Ismail tampil sebagai film terbaik dalam festival ini. Film ini sekaligus terpilih mewakili Indonesia dalam Festival Film Asia II di Singapura. Film ini dianggap karya terbaik Usmar Ismail. Sebuah film yang menyampaikan kritik sosial yang sangat tajam mengenai para bekas pejuang setelah kemerdekaan.

Di tahun ‘80-an, produksi film lokal meningkat. Dari 604 di tahun ‘70-an menjadi 721 judul film. Jumlah aktor dan aktris pun meningkat pesat. Begitu pula penonton yang mendatangi bioskop. Tema-tema komedi, seks, seks horor dan musik mendominasi produksi film di tahun-tahun tsb.

Sejumlah film dan bintang film mencatat sukses besar dalam meraih penonton. Warkop dan H. Rhoma Irama adalah dua nama yang selalu ditunggu oleh penonton. Film Catatan Si Boy dan Lupus bahkan dibuat beberapa kali karena sukses meraih untung dari jumlah penonton yang mencapai rekor tersendiri.

Tapi yang paling monumental dalam hal jumlah penonton adalah film Pengkhianatan G-30S/PKI yang penontonnya (meskipun ada campur tangan pemerintah Orde Baru) sebanyak 699.282, masih sangat sulit untuk di tandingi oleh film-film lokal lainnya.

Kalau di awal munculnya bioskop, satu bioskop memiliki beberapa kelas penonton, tahun ‘80-an ini bioskopnya yang menjadi berkelas-kelas.

Cinemascope kemudian lebih dikenal sebagai bioskop 21. Dengan kehadiran bisokop 21, film-film lokal mulai tergeser peredarannya di bioskop-bioskop kecil dan bioskop-bioskop pinggiran. Apalagi dengan tema film yang cenderung monoton dan cenderung dibuat hanya untuk mengejar keuntungan saja, tanpa mempertimbangkan mutu film tersebut.

Hal lain yang juga tak bisa dipungkiri turut berperan dalam terpuruknya film nasional ini adalah impor dan distribusi film yang diserahkan kepada pihak swasta. Bioskop 21 bahkan hanya memutar film-film produksi Hollywood saja, tidak mau memutar film-film lokal. Akibatnya, di akhir tahun ‘80-an, kondisi film nasional semakin parah dengan hadirnya stasiun-stasiun televisi swasta yang menghadirkan film-film impor dan sinema elektronik serta telenovela.

Meski dalam kondisi “sekarat”, beberapa karya seperti Cinta dalam Sepotong Roti, Daun di atas Bantal karya Garin Nugroho mampu memenangkan berbagai penghargaan di festival film internasional. Pertengahan ‘90-an, film-film nasional yang tengah menghadapi krisis ekonomi harus bersaing keras dengan maraknya sinetron di televisi-televisi swasta. Praktis semua aktor dan aktris panggung dan layar lebar beralih ke layar kaca. Apalagi dengan kehadiran Laser Disc, VCD dan DVD yang makin memudahkan masyarakat untuk menikmati film impor.

Namun di sisi lain, kehadiran kamera-kamera digital berdampak positif juga dalam dunia film Indonesia. Mulailah terbangun komunitas film-film independen. Film-film yang dibuat di luar aturan baku yang ada. Film-film mulai diproduksi dengan spirit militan.

Meskipun banyak fillm yang kelihatan amatir namun terdapat juga film-film dengan kualitas sinematografi yang baik. Sayangnya film-film independen ini masih belum memiliki jaringan peredaran yang baik. Sehingga film-film ini hanya bisa dilihat secara terbatas dan di ajang festival saja.

Kini, film Indonesia telah mulai berderak kembali. Beberapa film bahkan booming dengan jumlah penonton yang sangat banyak. Sebut saja, Ada apa dengan Cinta, yang membangkitkan kembali industri film Indonesia.

Beberapa film lain yang laris manis dan menggiring penonton ke bioskop seperti Petualangan Sherina, Jelangkung, Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi maupun Naga Bonar Jadi 2. Genre film juga kian variatif, meski tema-tema yang diusung terkadang latah, jika sedang ramai horor, banyak yang mengambil tema horor, begitu juga dengan tema-tema remaja/anak sekolah.

Dengan variasi yang diusung, itu memberikan kesempatan media film menjadi sarana pembelajaran dan motivator bagi masyarakat. Seperti film King, Garuda di Dadaku, serta Laskar Pelangi. Bahkan, Indonesia sudah memulai masuk ke industri animasi.


Dalam sebuah film terdapat unsur-unsur sebagai berikut:

Produser
Sutradara
Penulis Skenario
Penata Kamera (Kameramen)
Penata Artistik  (Art Director)
Penata Musik
Editor
Pengisi dan penata suara
Pemeran (aktris dan aktor)

Genre film adalah kategori, jenis, klasifikasi film berdasarkan alur cerita, kejadian, adegan, dan tokoh tertentu yang mendominasi film tersebut. Dalam perkembangannya, hingga kini sangatlah banyak jenis – jenis film yang dapat kita kelompokkan. Untuk itu, berikut adalah jenis genre film beserta penjelasannya.

1. Genre Action (Aksi) / Film Laga

Film action adalah jenis film dimana sebagian besar keseluruhan tokoh terlibat dalam sebuah scene atau adegan yang bersifat kontak fisik berupa perkelahian, saling mengejar, ledakan, baku tembak, dan lain sebagainya.

2. Genre Adventure (Pertualangan)

Film adventure adalah jenis film dimana tokoh utama berfokus pada alur cerita berupa pertualangan, tantangan, dan teka – teki dalam setiap adegan yang ada.

3. Genre Animation (Animasi)

Secara umum film animasi sama persis dengan genre film lainnya, yang membedakan adalah film animasi tidak berupa “manusia nyata” melainkan tokoh dan karakter manusia yang digambarkan dalam sebuah kartun baik itu 2D maupun 3D, tetapi tetap biasanya di-dubbing oleh tokoh manusia nyata.

4. Genre Biography (Biografi)

Film biografi adalah jenis film yang menceritakan sejarah, pejalanan hidup, karir, atau apapun yang berfokus pada seorang tokoh, ras, kelompok, kebudayaan tertentu. Dapat dipastikan bahwa film biografi merupakan kisah nyata yang diceritakan kembali dalam sebuah film.

5. Genre Comedy (Komedi) / Film Lucu

Film comedy adalah jenis film dimana alur & tempat cerita, scene,  properti, dan tokoh yang bermain menitikberatkan dan bersifat kelucuan (lucu), sehingga mengundang ekspresi berupa tertawa.

6. Genre Crime / Film Kriminal

Film kriminal adalah jenis film dimana alur cerita, permasalahan, konflik, dan tokoh merupakan bagian dari suatu tindakan yang melawan hukum (kriminal), biasanya dipastikan film ini selalu berdampingan dengan genre action.

7. Genre Documentary / Film Dokumenter

Film dokumenter adalah jenis film yang berisi peristiwa penting dari sebuah kejadian nyata pada waktu tertentu. Film dokumenter hampir mirip dengan film biografi, salah satu bedanya film dokumenter biasanya tidak diperankan oleh tokoh pemeran tertentu melainkan berupa penggambaran.

8. Genre Drama

Film drama adalah jenis film yang mengandung sebuah alur, tokoh, dll. yang memiliki tema tertentu berupa percintaan, kehidupan, sosial,  dan lain sebagainya bahkan film perang sekalipun.

9. Genre Family / Film Keluarga

Film keluarga adalah jenis film yang memfokuskan pada kehidupan yang terjadi dalam sebuah keluarga. Genre film keluarga memastikan bahwa setiap “anggota keluarga” dapat menonton dan menikmati film yang bersifat “mempersatukan” dalam lingkup keluarga.

10. Genre Fantasy (Fantasi)

Film fantasi adalah jenis film dimana setiap unsur dalam film tersebut merupakan hasil dari khayalan, imajinasi dari pembuatnya yang bersifat menghibur.

11. Genre History (Histori / Sejarah)

Film histori adalah jenis film yang sebagian besar alur ceritanya mengisahkan masa lalu sesuai peristiwa yang telah terjadi dan menjadikannya sebuah “sejarah”.

12. Genre Horror (Horor) / Film Horor

Film horor adalah jenis film yang menitikberatkan pada alur dan adegan yang bersifat menyeramkan, menakutkan, dan memicu adrenalin para penonton.

13. Genre Musical (Musikal)

Film musical adalah jenis film yang dipastikan setiap kejadian utama, ekspresi, atau apapun diungkapkan melalui sebuah musik (bernyanyi) disertai drama adegan tertentu.

14. Genre Mystery (Misteri)

Film misteri adalah jenis film yang menitikberatkan pada alur cerita penuh teka – teki untuk mengungkap suatu permasalahan tertentu.

15. Genre Romance (Romantis)

Film romastin adalah jenis film yang berfokus pada adegan dan tokoh yang bersifat romantis (percintaan), biasanya dipastikan selalu berdampingan dengan genre drama.

16. Genre Sci-Fi (Science Fiction) / Film Fiksi Ilmiah

Film Sci-Fi adalah jenis film fantasi imajinasi yang bersifat ilmu pengetahuan yang sedang berkembang dan biasanya masih belum terbukti (nyata). Kisah utamanya merupakan pengembangan secara imajinasi sesuatu yang bisa terjadi secara nyata dari suatu teknologi pengetahuan tertentu.

17. Genre Thriller

Film thriller adalah jenis film yang dipenuhi dengan aksi menegangkan dan menebarkan. Tokoh utama berpacu dalam sebuah kejadian terhadap waktu dan tantangan tertentu.

18. Genre War (Perang)

Film perang adalah jenis film dimana alur cerita, latar belakang, adegan, dan tokoh terlibat dalam sebuah peperangan tertentu. Peperangan dapat berupa antar negara atau bahkan hanya misi terhadap kelompok tertentu.

19. Genre Western (Barat)

Film western adalah jenis film yang berkaitan dengan suku dan kehidupan di Amerika pada zaman dahulu. Biasanya berupa tokoh koboi topi berkuda dan sherif dalam aksi tembak menembak yang klasik.

20. Genre Sport / Film Olahraga

Film olahraga adalah jenis film dimana alur cerita, adegan, dan tokoh selalu bergelut dengan kehidupan sebuah olahraga tertentu.



Film sebagai hasil seni dan budaya mempunyai fungsi dan manfaat yang luas dan besar  baik dibidang sosial, ekonomi, maupun budaya dalam rangka menjaga dan mempertahankan keanekaragaman nilai-nilai dalam penyelanggaraan berbangsa dan bernegara.

Film berfungsi sebagai:

1. Fungsi hiburan
Dalam mensejahterakan rohani manusia karena membutuhkan kepuasan batin untuk melihat secara visual serta pembinaan.

2. Fungsi penerangan
Dalam film segala informasi dapat disampaikan secara audio-visual sehingga dapat mudah dimengerti.

3. Fungsi pendidikan
Dapat memberikan contoh suatu peragaan yang bersifat mendidik, tauladan didalam masyarakat dan mempertontonkan perbuatan-perbuatan yang baik.

4. Bagian dari komoditas ekonomi
Kehadiran film berserta industrinya sedikit banyak memberikan pengaruh positif, salah satu bentuk bukti kontribusi film itu adalah penggunaan dan perputaran uang dalam penggarapan sebuah film, dalam membuat sebuah film sudah pasti akan melibatkan banyak hal. Ini termasuk pemain, pengunaan properti, dan lain sebagainya.

Film pada hakekatnya adalah media massa, adapun tujuan media massa untuk masyarakat sebagai berikut:

1. Informasi 
Menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi dalam masyarakat dunia. Menunjukkan hubungan kekuasaan. Memudahkan inovasi, adaptasi, dan kemajuan.

2. Korelasi
Menjelaskan, menafsirkan, mengomentari, makna peristiwa dan informasi. Menunjang otoritas dan norma-norma mapan.

3. Melakukan sosialisasi
Mengkoordinasi beberapa kegiatan. Membentuk kesepakatan.

4. Kesinambungan
Mengekspresikan budaya dominant dan mengakui kebudayaan khusus serta perkembangan baru. Meningkatkan dan melestarikan nilai-nilai.

5. Hiburan
Menyediakan hiburan, pengalihan perhatian, dan sarana relaksasi. Meredakan ketegangan social.

6. Mobilisasi
Mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam bidang politik, perang, pembangunan ekonomi, pekerjaan, dan kadang kala juga dalam bidang agama.

Semoga bermanfaat,,,,,

---------------------------------------------------------------
Sumber :

https://www.seputarpengetahuan.co.id/2017/10/pengertian-film-sejarah-fungsi-jenis-jenis-unsur.html

https://bobo.grid.id/amp/081676536/sejarah-film-dunia-berawal-dari-video-berdurasi-46-detik-lo?page=all

https://www.kompasiana.com/amp/herusutadi/sejarah-film-dan-perkembangan-film-indonesia_54ff8c3da33311f44d5104db

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Perkembangan_Film

http://filmmoviemania14.blogspot.com/2011/12/fungsi-film.html?m=1

http://www.infoglobalkita.com/2017/07/fungsi-tujuan-dan-kriteria-film-bermutu.html?m=1

http://ynstudios-internship.blogspot.com/2017/07/20-jenis-film-penjelasannya.html?m=1

2 komentar: